Sunday, December 16, 2018

WEDUS


WEDUS

Mendhing tuku sate, timbang tuku wedhuse
Mendhing genda’an timbang dadi bojone,
Mangan sate, ora mikir mburine
Ngingu wedhus dadak mikir sukete
reff :
Timbang dibojo, ora ana duite
Mendhing tak gae, genda’an wae
Ora usah mikir sabendinane,
Seminggu cukup sepisan wae
Mergone aku ora kuat,
Yen duwe bojo, wong melarat
Ra mblanjani, gawene sambat
Seneng kumpul modal dengkul banda nekat




------000------
Anda pernah mendengar lirik lagu di atas? Atau malah hapal? Ahai…jika termasuk yang terakhir—siapapun Anda-- bisa dipastikan Anda adalah penggemar berat lagu-lagu dangdut koplo Pantura.

Ya, lirik lagu di atas adalah bagian dari lagu berjudul Wedus (kalau tidak salah dipopulerkan Wiwik Sagita). Lagu itu sedemikian cetar di kalangan pegiat goyang yang biasa memadati Sriwedari di malam Minggu. Setiap Sabtu malam memang Sriwedari menyuguhkan lagu-lagu dangdut yang tak pernah sepi pengunjung.

Saya belum pernah bergabung ke komunitas mandi keringat itu meski tak dimungkiri pernah melihat dari jarak dekat lantaran bertepatan dengan saya mengantar anak-anak menikmati aneka permainan di taman hiburan remaja tersebut.

Saya menulis ini karena saya terpaksa harus “menikmati” lagu yang jauh dari kata nikmat itu (menurut saya lho ya) sebab setiap hari diputar di tempat kebugaran di mana saya sering berolahraga di sana.

Lagu berjudul Wedus ini hanya salah satu dari lagu-lagu dangdut koplo lainnya yang banyak beredar di masyarakat. Sebagian malah liriknya jorok dan diputar di radio-radio komunitas yang banyak beredar di udara Soloraya ini.

Jangan bandingkan lagu-lagu model ini dengan tembang-tembang legendaris kayak Ani-nya Bang Haji Rhoma Irama, Gubuk Bambu-nya Meggy Z (almarhum) atau Cinta Parabola-nya Mbak Evie Tamala. Sangat jauh dan tidak layak dibandingkan. Kebetulan tiga penyanyi ini lagu-lagunya menghiasi perjalanan masa kecil saya di desa nun jauh di Sukoharjo.

Sampai sekarang pun lagu-lagu itu masih popular dinyanyikan, bukan saja oleh generasi tempo doeloe tapi juga oleh anak-anak muda zaman sekarang. Tak aneh sebab lagu-lagu legendaris itu diaransemen ulang dan menjadi rasa baru yang kerap muncul di acara-acara hajatan.

Kembali ke lagu Wedus tadi. Dari yang tidak nggagas lama-lama saya terpaksa menjadi hafal karena setiap hari mendengarnya di gym tempat saya berolahraga. Dan dari situ saya tahu, selain kualitas suara penyanyinya sangat pas-pasan lirik lagunya juga sontoloyo. Jelas lagu yang dibuat hanya untuk “kepentingan sesaat”, hanya cari uang semata. Itu saja, selesai. Tanpa nilai seni yang bakal awet di setiap zaman.

Inilah yang membedakan dengan lagu-lagu zaman dulu. Kenapa lagu-lagu tempo dulu masih oke dinyanyikan sekarang? Karena kualitas seninya sangat kuat. Iramanya merdu, suara penyanyinya oke dan liriknya pun tidak asal-asalan. “Penyanyi zaman dulu itu menciptakan lagu dengan hati. Mereka ingin memberi yang terbaik bagi masyarakat, tidak berpikir apakah nanti lagunya akan laku dan menjadi uang atau tidak. Mereka hanya berpikir lagu yang dinyanyikan bagian dari sejarah bangsa ini,” tutur Bang Haji Rhoma Irama dalam salah satu wawancaranya dengan Sule di Trans 7, beberapa tahun lalu.

Pak Haji tidak asal omong. Tidak kurang 500 lagu telah ia ciptakan sejak album perdananya, Begadang diluncurkan pada 1973 silam. Bahkan album itu masuk dalam daftar 150 album terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stones. Oleh majalah itu Rhoma dimasukkan sebagai 25 artis terbesar Indonesia sepanjang masa bersama Bing Slamet, Ismail Marzuki, Koes Plus, Bimbo dan lain-lain.

Survei Reform Institute tahun 2008 juga menempatkan Rhoma Irama di atas penyanyi maupun grup-grup band tenar saat ini macam Ungu, Peterpan, Dewa 19 bahkan sang legenda hidup Iwan Fals.

Silakan cermati lirik lagu Wedus di atas. Tidak ada pesan moral sama sekali yang diusung sang pencipta lagu yang entah siapa dan dari mana ia berasal. Yang ada justru mengajar untuk bersikap pragmatis menghadapi hidup, yang penting senang bergelimang harta kendati bermandi dosa.

Genda’an atawa selingkuhan dikampanyekan secara masif dalam lirik lagu, diputar begitu bebas di radio-radio komunitas dan bisa didengarkan oleh siapa saja—termasuk anak-anak atau remaja.

Sebenarnya lagu tentang selingkuhan bukan barang baru. Topik orang ketiga sering menjadi inspirasi bagi para musisi untuk menuangkannya dalam bait-bait lagu, yang sering menyayat hati dan laris manis. Lagu-lagu galau ini benar-benar pas buat siapa saja yang saat ini jadi selingkuhan seseorang.

Yang pertama adalah lagu Begitu Salah Begitu Benar ciptaan Ahmad Dhani. Perhatikan liriknya:

"bahwa tak hanya diriku yang menjadi milikmu
 bahwa tak hanya diriku yang menemani tidurmu
 bahwa tak hanya diriku ada di hatimu selamanya"
Lagu ini bercerita tentang wanita yang bahagia walaupun tidak selalu bisa menemani sang kekasih. Ia sudah cukup dengan mencintai dan dicintai oleh pria tersebut walaupun mereka tidak bisa bersama.

Berikutnya adalah lagu Kekasih Gelapku yang dipopulerkan grup band Ungu. Lagu ini booming sekitar 6 tahun yang lalu. Bercerita tentang seorang pria yang mencintai kekasih gelapnya lebih dari ia mencintai kekasihnya sendiri.

Kumencintaimu lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orang pun yang tahu
Kumencintaimu sedalam-dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku

Tak hanya lagu berirama sendu, ada juga lagu tentang orang ketiga dengan irama yang berapi-api. Tengok lagu Cemburu yang lagi-lagi dibikin Ahmad Dhani. Lagu ini menceritakan seorang yang sedang dibakar api cemburu. Liriknya bahkan bernada seram. Anehnya, lagu ini juga cukup populer.

Ingin kubunuh pacarmu
Saat dia cium bibir merahmu
Di depan kedua mataku
Hatiku terbakar jadinya cantik
Aku cemburu....

Dan tentu tak bisa dilewatkan adalah lagu karya Sheila on 7 yang sangat terkenal di awal 2000-an, Sephia.
Slamat tidur kekasih gelapku oh Sephia…
Smoga cepat kau lupakan aku
Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup
untuk melupakanmu

Lagu itu menggemparkan musik Indonesia. Nama Sephia bahkan menjadi trand make untuk perempuan yang mengganggu hubungan/rumah tangga. Lagu ini meminta sang kekasih gelap untuk melupakan si pria karena ia ingin menjalani kehidupan cintanya dengan kekasihnya. Si pria kemungkinan merasa berdosa telah menghianati pacarnya dan berusaha kembali ke pelukannya dan meninggalkan si Sephia.

Gaes…dari beberapa contoh lagu bertema orang ketiga di atas coba bandingkan dengan lagu Wedus yang saya tulis di awal. Perbedaannya sangat jelas, seluruh lagu di atas bertema tentang cinta yang berbagi tanpa ada landasan materi alias harta benda. Sedangkan motivasi selingkuh pada lagu Wedus murni seratus persen karena masalah harta.
Timbang dibojo, ora ana duite
Mendhing tak gae, genda’an wae
Ora usah mikir sabendinane
Seminggu cukup sepisan wae
Mergone aku ora kuat

Benar-benar mengajarkan orang  untuk menjadikan materi/harta benda sebagai acuan utama untuk sebuah cinta. Repotnya lirik lagu model begini yang sekarang akrab di telinga kita. Bisa kita dengar lewat radio komunitas atau lewat rekaman Mp3 di HP-HP.

Jujur saya tidak tahu motivasi si pengarang lagu ini kala membuat lagu ini. Tentu tidak adil jika saya menghakimi sehabis-habisnya di sini sementara tidak ada secuil pun konfirmasi dari si pengarang lagu.



*Dimuat di Soloensis, 11 Maret 2016

Opa Riedl Sudah Mentok


Hingga menit ke-80 saya terus bersorak. Gol Boaz Salossa dan disusul Lerby Eliandri beberapa menit kemudian membuat saya yakin Indonesia bisa mencuri poin dalam laga perdana Piala AFF 2016 melawan jagoan Asia Tenggara, Thailand, Sabtu (19/11/2016).  

Lalu saya terdiam. Sedikit mengutuk. Keyakinan saya sesat total. Therasil Dangda benar-benar semprul. Setelah memborong dua gol ke gawang Australia dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2018 beberapa hari lalu, ternyata dia masih rakus.

Bukan hanya dua. Striker Negeri Gajah Putih yang kalah ganteng dari Bambang Pamungkas (kapok) itu memborong tiga gol ke gawang Kurnia Meiga. Kurnia Meiga? Iya betul, Kurnia Meiga. Ini juga semprul. Sulit dinalar Alfred Riedl masih memainkan kiper--yang malas gerak saat uji coba dengan Vietnam dan kebobolan tiga gol—itu dalam laga penting melawan Thailand.

Ke mana Andritani, Riedl? Tanyaku dalam hati. “Saya memasang Meiga karena dia yang paling siap,” jawab Opa Riedl, pelatih yang telah dua gagal membesut Pasukan Garuda di Piala AFF (liputan6.com).

Oya sudah, jawabku (masih) dalam hati.

Sodara-sodara, meski tertinggal dua gol di babak pertama, Boaz dkk. sebenarnya bermain apik di 15 menit babak kedua. Hasilnya, dua gol dalam rentang waktu 10 menit membuat Indonesia berhasil menyamakan kedudukan 2-2.

Namun kecerobohan Yanto Bazna dan Fachruddin menjadikan semuanya sia-sia. Dua gol tambahan dari Therasil Dangda membuat Indonesia hancur di menit-menit akhir. Indonesia kalah 2-4.

Itulah sepak bola. Selalu ada drama di sana. Baru berangkat saja sudah diiringi drama cederanya sang mesin gol Tim Merah Putih, Irfan Bachdim, akibat ditekel Hansamu Yama Pratama dalam latihan terakhir.

Dan pertandingan perdana selalu sulit, bahkan untuk tim sekelas Barcelona, Real Madrid atau Manchester United sekalipun. Pasukan Alfred Riedl terlihat demam panggung, eh demam lapangan. Satu tahun lebih absen dari laga internasional tak dimungkiri mempengaruhi penampilan anak-anak muda Skuat Garuda.

Apalagi, laga perdana di kancah internasional itu menghadapi Thailand, yang tengah memupuk asa lolos ke Piala Dunia  2018. Sebenarnya, seperti kata Opa Riedl seusai laga, penampilan Thailand tidak terlalu istimewa. Walaupun secara teknik lebih matang dari kita, mereka juga kerap melakukan kesalahan-kesalahan passing. Lini belakang mereka beberapa kali melakukan kesalahan mendasar. Tapi tetap saja mereka masih lebih joss.  

Drama di Filipina ini hanya sedikit dari roman sinetron sepak bola Indonesia. Larangan mengambil dua pemain per klub, gagalnya pemain bergabung ke timnas lantaran tidak diizinkan klub, adalah dua dari sekian banyak episode sepak bola Indonesia. “Ternyata tidak semua orang mendukung timnas. Ini menyedihkan untuk saya sebagai pelatih,” curhat Opa Riedl.

Sungguh Opa, kami memaklumi kesedihanmu. Sejujurnya kami lebih sedih lagi. Kami bingung dan bertanya-tanya apa yang membuatmu mau menerima tawaran melatih Tim Garuda. Kau pernah tersakiti saat membesut skuat timnas di era dualisme PSSI. Kau pernah melatih tanpa dibayar. Dan kini Opa mau menangani tim sementara federasi belum benar-benar terbebas dari teror politik. Hanya Opa (dan Tuhan) yang tahu alasannya.

Tapi Opa, kalah dari Thailand bukan kiamat. Masih ada dua laga, satu melawan tuan rumah Filipina dan terakhir melawan Singapura. Dua tim ini kayaknya sih tidak lebih istimewa dari Thailand. Setidaknya, hasil imbang 0-0 mereka membuktikan Indonesia bisa lebih baik dari laga pertama.

Tapi Opa, pasukanmu butuh semangat Manila 1991. Pernah membaca epos Tim Garuda di SEA Games 1991, Opa? Itulah gelar terakhir yang dihasilkan Indonesia di turnamen resmi Asia Tenggara. Ada sih gelar Juara Piala AFF 2013, tapi itu untuk kelas junior bukan senior. Konon di FIFA yang diakui yang kelas senior kan Opa?

Okelah aku bocori sedikit, Opa. Situasi di SEA Games 1991 Manila itu kurang lebih sama dengan saat ini. Indonesia diprediksi tidak bisa berbuat banyak. Kalah di segalanya dari tim-tim yang bertanding. Di fase grup Indonesia bersaing dengan juara bertahan Malaysia, Vietnam dan tuan rumah Filipina.

Satu-satunya yang bisa diolah pelatih Anatoli Polosin (Rusia) saat itu adalah memompa semangat Aji Santosa dkk. Indonesia harus bisa memanfaatkan kemampuan fisik untuk menutupi kekalahan skill pemain. Singkatnya, jika lawan hanya mampu main 2 x 45 Indonesia harus bisa main 2 x 90 menit. Hasilnya, Indonesia jawara. Itulah gelar terakhir hingga saat ini. 

Bisakah faktor fisik ini dimanfaatkan? Saya tidak tahu Opa. Melawan Thailand kemarin pun tim asuhanmu tampak loyo. Padahal Thailand masih kelelahan karena mengikuti babak penyisihan untuk Piala Dunia 2018. Ternyata pasukanmu lebih lelah dari mereka.

Sekarang kami pilih realistis saja. Tinggal pasrah saja kepada Yang Maha Kuasa, siapa yang Dia pilih jadi JUARA ASIA TENGGARA saat ini, kami sami’naa wa atha’naa.

Oh ya, satu lagi. Tolong jangan mainkan Kurnia Meiga dulu ya Opa. Dia pemain bagus kok, cuman sudah lama tidak memegang bola. Berikan kesempatan ke Andritani atau Teja Paku Alam yang terbukti jos di klub masing-masing.

Meiga memang punya nama besar. Apalagi badannya,  tinggi besar. Tapi laga resmi begini tidak cukup nama besar atau badan tinggi besar, Opa. Butuh pemain yang benar-benar siap, dan terlatih. Dan itu ada pada dua nama selain Kurnia Meiga. Please, Opa.

Oh ya Opa, untuk pertandingan melawan Filipina, Selasa (22/11), tolong dibisiki ke semua pemain, saat Indonesia menjuarai SEA Games di Manila 25 tahun silam, Roby Darwis cs menghajar tuan rumah Filipina 2-1. Kalau bisa besok diulangi lagi ya, skornya terserah yang penting menang.

Masalahmu bertumpuk, Opa. Semoga engkau diberi kesehatan. Ingat, usiamu sudah 63 tahun. Jangan sampai beban berat di pundakmu membuat umurmu berlari lebih cepat dari seharusnya.

Apapun hasil di Filipina, kami berjanji tidak akan menghujatmu (ingat syaratnya, jangan mainkan Meiga dulu). Benar, kami sudah sepakat tidak menghujatmu meski kau cetak hattrick gagal di Piala AFF. Hujatan kami lebih tepat untuk pemain-pemain politik di PSSI, yang saat ini belum ada tanda-tanda bakal lengser keprabon.

Hari sudah terlalu malam, met istirahat, Opa. Besok kamu harus memimpin latihan. Semoga mimpi yang indah, mimpi mengangkat tropi Piala AFF….


*Artikel dimuat di Soloensis, 20 November 2016








Kami Bukan Koran Porno Bro


 “Malas baca Solopos. Informasinya tidak lengkap, bikin penasaran. Tidak klimaks!!!” 

Pesan ini mampir di inbox Facebook saya. Sebentar saya terhenyak. Kritikan yang muncul kali kesekian dari orang yang sama. Kendati tak bertemu muka, saya membayangkan di seberang sana kawan saya itu pasti sedang manyun. Indikasinya terlihat dari tanda seru pada pesannya di inbox. Gila, sampai tiga…

Usut punya usut, rupanya kawan karib itu sedang membahas berita di Solopos tentang kasus pengarakan siswi kelas II SMP di Sragen yang bikin heboh beberapa pekan terakhir. Setiap hari ia mengikuti berita itu. Bukan hanya satu koran tapi beberapa. Solopos menjadi bacaan utama karena ia telah berlangganan sejak lama.

Justru karena berstatus bacaan utama itulah yang membuat ia dongkol. Di Koran A ia mendapati alamat lengkap serta foto sang korban pengarakan bugil. Korban dijepret saat mendampingi keluarganya menerima kedatangan Kak Seto. Gadis malang itu mengenakan masker. Tapi jelas pembaca bisa mengira-ira seperti apa gadis yang sedang tumbuh dewasa itu.

Di Koran B tertulis nama korban. Ada fotonya juga meski di-blur di bagian wajah. Menurut saya foto ini lebih sadis. Fisik korban terlihat sekali karena mengenakan pakaian yang agak ketat. Sementara di Koran A, saat difoto korban mengenakan baju longgar plus berjilbab.

Sama dengan Koran A, Koran B memuat alamat lengkap korban yang meliputi dusun, desa dan kecamatan.  Sementara di Solopos, jangankan fotonya alamat korban saja hanya tertulis kecamatan. Sama sekali bikin penasaran, katanya. “Saya berpikir untuk ganti langganan koran,” kawan saya mengakhiri chatting dengan tulisan yang mengagetkan.

Saya terhenyak lagi. Kawan saya itu penggemar Solopos dan berlangganan sejak lima tahun silam. Meski membaca koran lain ia tidak berhenti membeli koran yang saya sudah 13 tahun berkecimpung di dalamnya tersebut.

Tapi jika ia berhenti berlangganan karena geram lantaran berita pengarakan bugil tidak komplet, terus terang saya tidak bisa mencegah. Tentu kami tidak ingin demi memuaskan kehausan informasi pembaca lantas kami membuta terhadap aturan main.

Bukan karena informasi wartawan kami tidak lengkap yang membuat Solopos tak memuat nama, alamat apalagi foto korban. Adalah perintah Undang-undang Pers yang membuat kami harus patuh. Pasal 5 Kode Etik Jurnalistik mengamanatkan “Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.”

Kesepakatan di ruang redaksi kami, penulisan korban kejahatan susila harus inisial, alamat maksimal kecamatan saja (haram mencantumkan desa, dusun apalagi sampai RT dan RW-nya). Jika pelaku adalah tetangga atau orang terdekatnya maka ia juga harus diinisial agar tidak menggiring pengetahuan pembaca ke identitas korban. Singkat cerita, korban harus sangat-sangat dilindungi!

Dalam kasus di Sragen, di Solopos alih-alih mendapat foto korban, nama gadis itu pun hanya diinisial R. Jangankan mendapat alamat rumahnya, Solopos hanya menulis kecamatan saja untuk menunjukkan di mana gadis malang itu tinggal. Pelaku juga hanya diinisial! Dengan informasi “sedangkal” itu wajar jika kawan saya yang bekerja sebagai karyawan swasta tersebut geram.

Apakah Solopos tidak mempunyai informasi lengkap tentang R? Atau wartawan Solopos malas menggali informasi tentang gadis yang sekarang menjadi anak asuh Kak Seto itu? Hehehe…silakan berprasangka, tapi saya jamin wartawan Solopos mempunyai data lengkap tentang R. Tentang alamat detail rumahnya, di mana ia bersekolah, siapa nama orang tuanya, nama tetangganya, nama pelaku pengarakan. Tentu, reporter Solopos yang bertugas di Sragen juga mempunyai foto korban.

Tapi pembaca, usia korban 15 tahun dan duduk di kelas II salah satu SMP swasta di Bumi Sukowati. Umur 15 tahun kalau untuk anak sekarang rata-rata bodinya sudah bongsor. Hormon mereka tumbuh jauh lebih baik dari anak-anak seusia mereka puluhan tahun silam. Foto yang dimuat koran A dan Koran B menguatkan analisis saya ini. Umumnya anak di usia itu sekarang juga sudah mengenal pacaran.

Bayangkan lagi, di usia yang sudah merangkak dewasa itu ia diarak bugil, ditonton banyak orang, didokumentasikan melalui foto dan video lalu disebarluaskan melalui internet? Hanya dalam hitungan detik, video porno itu menyebar ke mana-mana, bisa diakses di berbagai belahan dunia. Coba bayangkan lagi jika R adalah Anda, atau anak Anda, atau adik Anda, atau kakak Anda, atau apalah yang penting keluarga Anda, bagaimana psikologinya? Maka wajar jika kemudian R mencoba bunuh diri sebagaimana diberitakan Solopos beberapa hari setelah kasus pengarakan.

Itulah alasan kenapa identitas korban kami rahasiakan. Bahkan identitas pelaku pengarakan pun kami cukup inisial. Lho kenapa? Bukankah ia pelaku kejahatan? Seharusnya ia dihukum secara sosial dengan “dipermalukan” di muka umum karena perbuatannya yang melanggar HAM gadis R?

Betul, tapi bukankah pelaku adalah tetangga dekat korban? Dengan membuka identitas pelaku sama artinya kami menggiring masyarakat untuk tahu identitas R. Kami menghindari: “itu lho gadis yang diarak dalam kondisi bugil.”

Sekarang tentu Anda paham kan kenapa kami tidak bisa membuat “klimaks” hasrat ingin tahu pembaca dalam kasus ini. Kami harus mempertimbangkan antara keterbukaan informasi dengan psikologi korban. Dan dalam kasus ini, psikologi dan masa depan lebih penting dari sekadar koran kami laku dibaca. Wallahua’lam bisshawab. 



*Ditulis di Soloensis, 29 Januari 2016

Muhammad Zohri & Pemilu



Saya tidak tahu apakah Fauzan Noor, sang juara dunia karate tradisional asal Indonesia, sudah berterima kasih kepada Lalu Muhammad Zohri atau belum. Jika belum, semoga Fauzan segera melakukan itu. Sebab “berkat” sang juara dunia lari asal Lombok, Nusa Tenggara Barat itu, Fauzan jadi kaya mendadak.

Berbagai hadiah dikirim ke rumahnya meskipun terlambat enam bulan sejak ia menjuarai International Traditional Karate Federation (ITKF) di Praha, Republik Ceko, akhir 2017 hingga awal 2018 lalu. Bukan sekadar terlambat datang, terlambat dipikirkan bahkan.

Fauzan--karateka berusia 20 tahun asal  Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI)--mendapat tuah kehebatan media sosial (medsos). Setelah Zohri panen duit gegara mempermalukan jagoan Paman Sam di ajang lomba lari dunia beberapa pekan lalu, publik dunia maya mengarahkan telunjuk ke Fauzan. Kenapa sama-sama juara dunia, sama-sama mengharumkan nama negara, bisa berbeda perlakuan.

Zohri menjadi jutawan dadakan bahkan sebelum dirinya menginjakkan kembali kakinya di Tanah Air. Sementara Fauzan tak sepeser pun mendapatkan penghargaan serupa, baik dari negara/pemerintah, perusahaan maupun para dermawan.

Alih-alih hadiah, duit utangan untuk keberangkatannya ke Praha pun belum terbayar. Selama dua pekan di Republik Cheko, Fauzan dan pelatihnya, Mustafa, hanya mengantongi duit Rp600.000. Dana untuk ikut kompetisi dan tiket pesawat Rp50 juta didapatkan dari berutang. Untuk bekal selama kejuaraan di Ceko, mereka berdua membekali diri dengan mi instan, kacang bungkus, telur asin, dan ikan asin.

Padahal juaranya Fauzan tak kalah heroik dari Zohri. Dalam kejuaraan adu gebuk itu, lawan-lawan Fauzan bertubuh lebih tinggi dan besar. Di partai final, pemuda asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu harus menghadapi jawara tuan rumah yang bertubuh 20 kg lebih berat dan 20 cm lebih tinggi darinya. Di karate tradisional memang petarung tidak mengenal kelas. Yang penting masuk kategori senior (minimal berusia 17 tahun) maka layak dipertandingkan berapa pun berat badannya.

Setelah ramai di internet, dermawan pun berdatangan. Ada yang menawari Fauzan pekerjaan, ada pula yang menyumbang uang. Begitulah, di “zaman now” ini, sehebat apapun Anda harus viral dulu baru mendapat apresiasi.

Kisah Fauzan ini cerita klasik. Penghargaan dan perhatian sering datang terlambat. Padahal, Indonesia memiliki banyak mutiara terpendam di berbagai bidang, baik olahraga maupun seni dan pendidikan. Selain Fauzan dan Zohri, ada nama Samantha Edithso, bocah asal Bandung yang menjadi juara dunia catur di Minks, Belarusia pada Juli 2017. Dan sama kasusnya dengan Fauzan, apresiasi untuk Samantha pun datang terlambat. Ia mendapat tuah dari Zohri effect.


Kisah Fauzan dan Samantha—dan juga masih banyak lagi talenta hebat Tanah Air—merupakan kisah klasik kekurangpedulian dan kurangnya penghargaan negara atas kemampuan anak negeri. Negara kerap terlambat menyadari ada emas berkilau.

Talenta-talenta hebat itu kerap merasa sendirian. Padahal mereka berjibaku mengharumkan nama bangsa dan negara. Saya teringat keluh kesah Indra Sjafrie kali pertama membangun skuat Timnas U19 pada 2012 silam. Dengan dana pribadi ia bepergian keliling Indonesia demi ambisi mencari talenta-talenta hebat di lapangan hijau. Ia punya mimpi membangun timnas Indonesia yang menjadi macan Asia seperti di era tahun 1960 hingga 1970-an.

Mimpi itu mulai menjadi kenyataan saat skuat yang dibangun Indra Sjafrie berhasil menjuarai Piala AFF U19 pada 2013 di Sidoarjo, Jawa Timur. Sayang setelah sukses Garuda Muda dijadikan komoditi. Mereka dikomersialkan dengan aneka uji coba melawan tim-tim lokal Tanah Air dan luar negeri. Timnas U19 mendadak menjadi penghasil pundi-pundi uang bagi PSSI.

Akibatnya, saat diuji pada pertandingan sesungguhnya (Piala Asia U20) mereka antiklimaks. Hasilnya jeblok dan gagal total. Dan saat terpuruk itu, kembali Indra Sjafrie merasa sendirian. Tidak ada lagi dukungan seperti saat ia juara. Bahkan mantan pelatih Semen Padang itu disalahkan karena gagal di event resmi.

“Jika tidak ada Cak Nun [Emha Ainun Najib], mungkin saya sudah ditembak saat di Myanmar” kata Indra dalam salah satu acara Maiyahan, acara yang dipandu Cak Nun, pada 2014 silam.

Begitulah nasib para pengharum nama bangsa. Mereka dipuja-puja saat juara dan diabaikan begitu saja saat tak menghasilkan piala.

Mumpung berada di event besar politik—Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden—mari berkeluh kesah tentang hal ini. Mungkin tidak akan seketika mengubah keadaan tapi semoga keluh kesah ini nyanthol di benak salah satu calon pemimpin. Sehingga saat berkuasa ia berbuat sesuatu yang lebih baik bagi para pengharum nama bangsa.

Dulu di era Menpora Adyaksa Dault dibikin program Satu Rumah Satu Atlet, penghargaan bagi para mantan atlet yang hidupnya susah. Entah apakah program itu masih berjalan atau tidak sekarang. Sebab menjadi tradisi di negeri ini, berganti pemimpin berganti pula semua program kerjanya.

Saatnya Negara lebih peduli dengan talenta anak bangsa. Jangan hanya olahraga popular yang mendapat perhatian. Cabang olahraga yang lain juga harus mendapatkan porsi yang adil. Sebab, mereka punya peluang yang sama untuk menorehkan prestasi.

Kasus Fauzan ini anomali. FKTI, federasi karateka tempat ia bernaung belum terdaftar di KONI. Otomatis tidak ada perhatian apalagi pendanaan bagi para atlet di federasi tersebut. Padahal terbukti saat bertarung dengan atlet dari berbagai negara Fauzan  mampu menjadi yang terbaik.

Saatnya pemerintah tidak hanya fokus pada olahraga yang selama ini mempunyai nilai jual tinggi semacam sepak bola, bulu tangkis dan tinju. Perlu perhatian dan pembinaan secara serius serta berkelanjutan di semua cabang olahraga. Melalui pembinaan yang baik, bibit-bibit emas akan bermunculan.

Sejarah membuktikan Indonesia tidak kekurangan atlet berbakat. Mereka hanya butuh diberi perhatian dan fasilitas. Kasus Fauzan salah satu contohnya. Dimulai dari persiapan dengan dana mandiri, saat berangkat pun ia dan pelatihnya harus berutang untuk membeli tiket pesawat. Dan terbukti, dengan segala keterbatasan yang ia miliki Fauzan mampu mempersembahkan yang terbaik untuk Ibu Pertiwi.

Kondisi Muhammad Zohri sebenarnya mirip dengan Fauzan. Modal semangat membara yang membuat ia mampu mengatasi segala keterbatasan finansial sebagai atlet. Dengan asupan gizi yang pas-pasan untuk ukuran atlet, nyatanya ia mampu mengalahkan para pelari dunia yang notabene lebih terjamin gizi dan nutrisinya. Keuletannya sukses mengguncang dunia atletik yang selama identik dengan dua Negara, Amerika Serikat dan Jamaika.

Tak kalah pentingnya adalah penghargaan setelah sang atlet pensiun. Tak semua atlet seberuntung Chris John, sang mantan juara dunia tinju kelas bulu, yang setelah gantung sarung tinju tetap laku di iklan. Sang Dragon--julukan Chris John-- kini bahkan laku di dunia politik dengan menjadi calon anggota legislatif dari Partai Nasdem.

Banyak atlet yang setelah pensiun hidup merana. Ambil contoh Suharto, peraih medali emas balap sepeda SEA Games 1979 yang kini bekerja sebagai penarik becak di Surabaya. Atau Lenni Haeni, atlet dayung yang meraih 20 medali emas dan perak untuk Indonesia yang kini bekerja sebagai buruh cuci. Ada juga atlet yang menjual medali yang ia peroleh karena kehabisan beras.

Yang paling fenomenal tentu saja kisah Ellias Pical, juara tinju dunia kelas bantam yang sempat menjadi tukang pukul di sebuah klub malam sebelum kemudian dipekerjakan sebagai karyawan di KONI setelah kisah hidupnya menjadi konsumsi media.

Kita berharap pemimpin-pemimpin yang terpilih dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden mendatang mampu merumuskan aturan yang berorientasi pada kepedulian terhadap aset bangsa. Tentu saja bukan aturan yang hanya diterapkan saat mereka berkuasa tapi juga bisa diteruskan di masa sesudah mereka.




*Artikel dimuat Solopos, 5 Agustus 2018

PETAHANA OH PETAHANA

Presiden Joko Widodo membombardir publik dengan sejumlah kebijakan populis di tahun politik. Setelah menaikkan anggaran perli...