Sunday, December 16, 2018

Siaga I Sepak Bola Indonesia


Mari rehat dari membahas terorisme. Capai rasanya menyaksikan kekerasan demi kekerasan mengoyak kedamaian negeri. Rasa jengkel, marah, muak bercampur dengan sedih yang mengharu biru melihat keluarga tercerai berai akibat bom yang menyalak tak kenal sanak.

Mari membicarakan yang tak kalah penting untuk negeri ini. Sepak bola Indonesia berstatus Siaga I. Jika tidak segera dicarikan solusinya, impian berprestasi di Asian Games 2018 hanya jadi mimpi. Mumpung masih ada waktu untuk berbenah.

Membahas sepak bola Indonesia rasanya mirip dengan kasus terorisme. Jengkel, marah, muak dan sedih campur aduk menjadi satu. Jengkel karena mencari 11 jagoan dari 260 juta penduduk negeri tak lebih mudah dari mencari jarum di tumpukan jerami.

Muak dan marah lantaran aroma mafia belum sepenuhnya hilang dari sepak bola. Hati bersedih sebab prestasi tertinggi masih di alam mimpi.

Ajang Anniversary Cup 2018 pada April lalu menjadi acuan berharga. Harus segera dilakukan pembenahan demi target prestasi tinggi di Asian Games di mana Indonesia tampil sebagai tuan rumah.

Tidak pernah menang di sebuah turnamen bukan kabar yang baik meski sejak awal pelatih Tim Nasional U23, Luis Milla, memang tidak mencari menang kalah dalam ajang pemanasan Garuda Muda. Ia lebih ingin mencari bentuk dan menyempurnakan organisasi permainan Hansamu Yama dan kawan-kawan.

Tapi tidak pernah memasukkan satu biji gol pun ke gawang lawan jelas bukan informasi menggembirakan bagi jutaan penggila sepak bola di Indonesia. Bagaimana bisa juara jika tak bisa bikin gol?

Kabar baiknya, Timnas hanya sekali kebobolan menghadapi tiga tim yang secara peringkat FIFA jauh di atas Evan Dimas dan kawan-kawan. Artinya, sektor tengah dan belakang cukup kokoh.

Menahan Korea Utara 0-0 yang pada pertandingan persahabatan sebelumnya mencukur Indonesia 4-1 dan membuat Uzbekistan tak berkutik dengan skor 0-0. Saat kalah dari Bahrain 0-1 pun Febri Haryadi dkk. hanya kurang beruntung.

Di luar sektor depan, penampilan Garuda Muda menjanjikan. Pergerakan satu dua sentuhan terlihat apik. Organisasi permainan bagus, transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya cepat. Gaya sepak bola Spanyol yang mengandalkan kecepatan dengan satu dua sentuhan terlihat nyata.

Ini kabar yang menggembirakan. Regenerasi pemain di sektor pertahanan dan tengah berjalan lancar. Hansamu Yama Pranata-Rezaldi Hehanusa-Ricky Fajrin dan I Putu Gede menjadi tembok yang kokoh dan sulit dibongkar lawan. Begitu pun kerja sama Evan Dimas, Hargianto dan Zulfiandi menjadikan lapangan tengah sangat hidup.

Satu-satunya kekurangan adalah di sektor depan. Tidak ada striker bernaluri membunuh yang dimiliki timnas. Dua pemain yang dijajal, Ilija Spasojevic dan Lerby Eliandri, memang bertipe striker murni tapi naluri membunuh mereka memble. Mereka terlalu gampang kehilangan bola, tidak bisa menjadi tembok pemantul yang membuat ruang bagi pemain lain untuk menusuk ke kotak penalti lawan.

Spasojevic dan Lerby memang cukup produktif di klub dan menjadi andalan, tapi menghadapi lawan berlevel pemain terbaik sebuah negara ternyata mereka jauh dari kata memuaskan.

Tim Nasional Indonesia krisis penyerang. Sulit diterima akal jika Indonesia dengan sepak bola gilanya krisis striker. Tapi inilah faktanya. Mencari satu predator dari 260 juta penduduk ternyata sama sulitnya dengan mengejar ikan di lautan dalam.

Indonesia butuh pemain seperti Bambang Pamungkas atau Cristian Gonzales yang bertipe striker murni. Striker yang bukan hanya sempurna mengolah si kulit bundar tapi juga pandai mencari positioning. Bahasa guyonnya, mereka bukan hanya mengejar bola tapi juga dikejar bola. Saat bola di dekat mereka langsung jadi gol!

Jika dirunut ke belakang sebenarnya ini efek dari tata kelola sepak bola yang silang sengkarut. Kebijakan pembolehan empat pemain asing di setiap klub oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) membuat klub berlomba-lomba mengimpor pemain berkualitas.

Striker-striker asing menyerbu. Bibit lokal terpinggirkan. Klub lebih memilih memainkan pemain asing demi target menang. Sebab jika tak menang duit tak mengalir lancar.

Hingga Liga 1 bergulir beberapa pekan, pencetak gol terbanyak didominasi pemain asing. Di barisan terdepan ada Ezechiel N'Douassel (Persib Bandung), Fernando Rodriguez Ortega (Mitra Kukar), David Da Silva (Persebaya) dan Dauglas Packer (Barito Putra). Di mana pemain lokal? Ada pemain naturalisasi Stefano Lilipaly dan Greg Nwokolo yang cukup subur tapi mereka bukan striker murni.

Pelatih kehilangan idealisme mencetak pemain lokal berkualitas. Mereka lebih mempercayai pemain siap pakai. Pelatih tak bisa mengelak dari tuntutan manajemen agar klub yang dilatih selalu menang. Tim tak menang mereka ditendang. Pelatih memilih mengambil jalan singkat daripada dipecat.

Hanya sedikit pelatih yang memberi kesempatan pemain lokal untuk menjadi starter di line up. Dalam kasus ini, pelatih Persebaya Surabaya, Alfredo Vera layak diapresiasi. Ia kerap memainkan Rishadi Fauzi sebagai starter dibanding striker asing, David Da Silva.

Demikian pula pelatih PSM Makassar Robert Rene Albert yang nyaris selalu memasang Ferdinand Sinaga di setiap laga. Lebih keren lagi pelatih Persipura Peter Butler yang mengorbitkan Ronaldo Wanma serta tak lupa mempercayai Boaz Solossa di lini depannya. Pelatih lain tidak berani. Mereka tidak berani berjudi, takut dipecat.

Dalam jangka panjang tren ini mengkhawatirkan. Hingga 10 atau 20 tahun ke depan Timnas akan kesulitan mencetak gol karena striker-striker murni Tanah Air tak muncul. Indonesia punya stok berlimpah dengan gelandang serang tapi minim striker murni.

Febri Hariyadi (Persib), Gonzali Siregar (Persib), Riko Simanjuntak (Persija), Syamsul Arif (Barito Putra), Osvaldo Hay (Persebaya), Saddil Ramdani (Persela), Septian David Maulana (Mitra Kukar) dan Bayu Gatra (Madura United) adalah tipe pemain destroyer yang tak lelah mengobrak-abrik pertahanan lawan. Tapi mereka tak bisa diandalkan mencetak gol. Tugas utama mereka hanya membuat ruang dan memberi umpan.

  Karena itu, PSSI perlu membuat regulasi yang memaksa striker lokal muncul. Misalnya aturan bahwa klub wajib memberi porsi lebih untuk striker lokal dalam setiap pertandingan. Regulasi ini mirip dengan saat Piala Presiden digelar di mana setiap klub wajib memainkan pemain di bawah usia 23 tahun minimal 1x45 menit.

Dengan demikian jam terbang pemain lebih banyak sehingga bibit unggul bermunculan. Contohnya adalah kemunculan Febri Haryadi, Gonzali Siregar dll. Sayangnya mereka bukan striker murni.

Asian Games digelar pada 18 Agustus mendatang. Masih ada waktu lebih dari dua bulan bagi PSSI untuk berbenah. Segera buat terobosan agar mendapatkan hasil maksimal di event olahraga terbesar di Asia tersebut. Jika perlu, beri kesempatan bibit muda seperti Hanis Saghara (Bali United) untuk tampil, seperti saat Boaz Solossa mengagetkan Asia Tenggara di usia 18 tahun kala tampil di Piala Tiger 2004. Bola itu bulat, semua bisa terjadi di sepak bola. 




*Dimuat Solopos edisi 20 Mei 2018

No comments:

Post a Comment

PETAHANA OH PETAHANA

Presiden Joko Widodo membombardir publik dengan sejumlah kebijakan populis di tahun politik. Setelah menaikkan anggaran perli...