Mari rehat dari
membahas terorisme. Capai rasanya menyaksikan kekerasan demi kekerasan mengoyak
kedamaian negeri. Rasa jengkel, marah, muak bercampur dengan sedih yang
mengharu biru melihat keluarga tercerai berai akibat bom yang menyalak tak
kenal sanak.
Mari
membicarakan yang tak kalah penting untuk negeri ini. Sepak bola Indonesia berstatus
Siaga I. Jika tidak segera dicarikan solusinya, impian berprestasi di Asian
Games 2018 hanya jadi mimpi. Mumpung masih ada waktu untuk berbenah.
Membahas
sepak bola Indonesia rasanya mirip dengan kasus terorisme. Jengkel, marah, muak
dan sedih campur aduk menjadi satu. Jengkel karena mencari 11 jagoan dari 260
juta penduduk negeri tak lebih mudah dari mencari jarum di tumpukan jerami.
Muak
dan marah lantaran aroma mafia belum sepenuhnya hilang dari sepak bola. Hati
bersedih sebab prestasi tertinggi masih di alam mimpi.
Ajang
Anniversary Cup 2018 pada April lalu
menjadi acuan berharga. Harus segera dilakukan pembenahan demi target prestasi
tinggi di Asian Games di mana Indonesia tampil sebagai tuan rumah.
Tidak
pernah menang di sebuah turnamen bukan kabar yang baik meski sejak awal pelatih
Tim Nasional U23, Luis Milla, memang tidak mencari menang kalah dalam ajang
pemanasan Garuda Muda. Ia lebih ingin mencari bentuk dan menyempurnakan
organisasi permainan Hansamu Yama dan kawan-kawan.
Tapi
tidak pernah memasukkan satu biji gol pun ke gawang lawan jelas bukan informasi
menggembirakan bagi jutaan penggila sepak bola di Indonesia. Bagaimana bisa
juara jika tak bisa bikin gol?
Kabar
baiknya, Timnas hanya sekali kebobolan menghadapi tiga tim yang secara
peringkat FIFA jauh di atas Evan Dimas dan kawan-kawan. Artinya, sektor tengah
dan belakang cukup kokoh.
Menahan
Korea Utara 0-0 yang pada pertandingan persahabatan sebelumnya mencukur
Indonesia 4-1 dan membuat Uzbekistan tak berkutik dengan skor 0-0. Saat kalah
dari Bahrain 0-1 pun Febri Haryadi dkk. hanya kurang beruntung.
Di
luar sektor depan, penampilan Garuda Muda menjanjikan. Pergerakan satu dua
sentuhan terlihat apik. Organisasi permainan bagus, transisi dari bertahan ke
menyerang dan sebaliknya cepat. Gaya sepak bola Spanyol yang mengandalkan
kecepatan dengan satu dua sentuhan terlihat nyata.
Ini
kabar yang menggembirakan. Regenerasi pemain di sektor pertahanan dan tengah
berjalan lancar. Hansamu Yama Pranata-Rezaldi Hehanusa-Ricky Fajrin dan I Putu
Gede menjadi tembok yang kokoh dan sulit dibongkar lawan. Begitu pun kerja sama
Evan Dimas, Hargianto dan Zulfiandi menjadikan lapangan tengah sangat hidup.
Satu-satunya
kekurangan adalah di sektor depan. Tidak ada striker bernaluri membunuh yang
dimiliki timnas. Dua pemain yang dijajal, Ilija Spasojevic dan Lerby Eliandri,
memang bertipe striker murni tapi naluri membunuh mereka memble. Mereka terlalu
gampang kehilangan bola, tidak bisa menjadi tembok pemantul yang membuat ruang
bagi pemain lain untuk menusuk ke kotak penalti lawan.
Spasojevic
dan Lerby memang cukup produktif di klub dan menjadi andalan, tapi menghadapi
lawan berlevel pemain terbaik sebuah negara ternyata mereka jauh dari kata
memuaskan.
Tim
Nasional Indonesia krisis penyerang. Sulit diterima akal jika Indonesia dengan
sepak bola gilanya krisis striker. Tapi inilah faktanya. Mencari satu predator
dari 260 juta penduduk ternyata sama sulitnya dengan mengejar ikan di lautan
dalam.
Indonesia
butuh pemain seperti Bambang Pamungkas atau Cristian Gonzales yang bertipe
striker murni. Striker yang bukan hanya sempurna mengolah si kulit bundar tapi
juga pandai mencari positioning.
Bahasa guyonnya, mereka bukan hanya mengejar bola tapi juga dikejar bola. Saat
bola di dekat mereka langsung jadi gol!
Jika
dirunut ke belakang sebenarnya ini efek dari tata kelola sepak bola yang silang
sengkarut. Kebijakan pembolehan empat pemain asing di setiap klub oleh Persatuan
Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) membuat klub berlomba-lomba mengimpor pemain
berkualitas.
Striker-striker
asing menyerbu. Bibit lokal terpinggirkan. Klub lebih memilih memainkan pemain
asing demi target menang. Sebab jika tak menang duit tak mengalir lancar.
Hingga
Liga 1 bergulir beberapa pekan, pencetak gol terbanyak didominasi pemain asing.
Di barisan terdepan ada Ezechiel N'Douassel
(Persib Bandung), Fernando Rodriguez Ortega (Mitra Kukar), David Da Silva
(Persebaya) dan Dauglas Packer (Barito Putra). Di
mana pemain lokal? Ada pemain naturalisasi Stefano Lilipaly dan Greg Nwokolo
yang cukup subur tapi mereka bukan striker murni.
Pelatih
kehilangan idealisme mencetak pemain lokal berkualitas. Mereka lebih
mempercayai pemain siap pakai. Pelatih tak bisa mengelak dari tuntutan manajemen
agar klub yang dilatih selalu menang. Tim tak menang mereka ditendang. Pelatih memilih
mengambil jalan singkat daripada dipecat.
Hanya
sedikit pelatih yang memberi kesempatan pemain lokal untuk menjadi starter di line up. Dalam kasus ini, pelatih Persebaya Surabaya, Alfredo Vera
layak diapresiasi. Ia kerap memainkan Rishadi Fauzi sebagai starter dibanding
striker asing, David Da Silva.
Demikian
pula pelatih PSM Makassar Robert Rene Albert yang nyaris selalu memasang
Ferdinand Sinaga di setiap laga. Lebih keren lagi pelatih Persipura Peter
Butler yang mengorbitkan Ronaldo Wanma serta tak lupa mempercayai Boaz Solossa
di lini depannya. Pelatih lain tidak berani. Mereka tidak berani berjudi, takut
dipecat.
Dalam
jangka panjang tren ini mengkhawatirkan. Hingga 10 atau 20 tahun ke depan
Timnas akan kesulitan mencetak gol karena striker-striker murni Tanah Air tak
muncul. Indonesia punya stok berlimpah dengan gelandang serang tapi minim
striker murni.
Febri
Hariyadi (Persib), Gonzali Siregar (Persib), Riko Simanjuntak (Persija),
Syamsul Arif (Barito Putra), Osvaldo Hay (Persebaya), Saddil Ramdani (Persela),
Septian David Maulana (Mitra Kukar) dan Bayu Gatra (Madura United) adalah tipe
pemain destroyer yang tak lelah
mengobrak-abrik pertahanan lawan. Tapi mereka tak bisa diandalkan mencetak gol.
Tugas utama mereka hanya membuat ruang dan memberi umpan.
Karena
itu, PSSI perlu membuat regulasi yang memaksa striker lokal muncul. Misalnya
aturan bahwa klub wajib memberi porsi lebih untuk striker lokal dalam setiap
pertandingan. Regulasi ini mirip dengan saat Piala Presiden digelar di mana
setiap klub wajib memainkan pemain di bawah usia 23 tahun minimal 1x45 menit.
Dengan
demikian jam terbang pemain lebih banyak sehingga bibit unggul bermunculan.
Contohnya adalah kemunculan Febri Haryadi, Gonzali Siregar dll. Sayangnya
mereka bukan striker murni.
Asian
Games digelar pada 18 Agustus
mendatang. Masih ada waktu lebih dari dua bulan bagi PSSI untuk berbenah.
Segera buat terobosan agar mendapatkan hasil maksimal di event olahraga terbesar di Asia tersebut. Jika perlu, beri
kesempatan bibit muda seperti Hanis Saghara (Bali United) untuk tampil, seperti
saat Boaz Solossa mengagetkan Asia Tenggara di usia 18 tahun kala tampil di
Piala Tiger 2004. Bola itu bulat, semua bisa terjadi di sepak bola.
*Dimuat Solopos edisi 20 Mei 2018
No comments:
Post a Comment