Siapakah
pelawak paling cerdas sekaligus terlucu saat ini? Saya yakin banyak yang setuju
jika saya memilih Cak Lontong. Cak Lontong adalah komedian dengan gaya pelesetan
yang cerdas, kritis dan menghibur. Pria bernama lengkap Lies Hartono ini tetap
lucu tanpa kehilangan kecerdasannya dan tetap cerdas tanpa kehilangan
kelucuannya.
Cak
Lontong muncul sebagai antithesis dari lawakan tempo dulu yang cenderung
mengandalkan kelucuan fisik ala slapstick.
Ia bermain dengan logika dan penalaran yang diolah dengan tataran kata yang
jika diucapkan orang lain biasa tapi menjadi istimewa kala dia yang berucap.
Di
era now, sebenarnya Cak Lontong tidak
sendirian memerankan peran sebagai pelawak yang bermain dengan kecerdasan kata.
Ada beberapa komika yang menonjol di permainan kata, tapi tetap saja Cak
Lontong yang paling unggul.
Mengapa? Karena, pertama, pria yang memulai karier lawak bersama grup Ludruk Cap
Toegoe ini pandai mengambil tema yang aktual dan relevan. Dalam konteks bisnis
ini sangat menguntungkan bagi dia sendiri. Kebiasaan Cak Lontong adalah membuat
pelesetan positif untuk nama-nama pejabat dari instansi/perusahaan yang
mengundangnya.
Misalnya ia memanjangkan nama Ketua
Partai Golkar Airlangga Hartarto dengan Amanah Mengalir Langkahnya Terjaga,
Harapannya Mengantar Rakyat Makmurnya Roto (rata). Tentu saja itu membuat
tertawa penonton dan menyenangkan pihak pengundang. Job pun laris manis.
Kedua, Cak Lontong selalu mampu membuat
kejutan sebelum lawakannya berakhir. Ini adalah yang paling saya tunggu sebagai
penggemar stand up komedi. Misalnya,”meskipun
Anda jelek jangan pernah takut mencintai orang lain. Karena sesungguhnya yang
harusnya takut adalah orang yang Anda cintai.”
Ketiga, Cak Lontong selalu menempatkan pikirannya
berseberangan dengan logika awam. Ini yang menjadikan dia berbeda dari pelawak
lainnya. Logikanya kerap terbalik dari persepsi awam, melawan arus pemikiran
orang banyak tapi tidak salah nalar.
Ini jelas bukan sekadar bakat alam
tapi melalui proses belajar dan perencanaan serta latihan yang baik. Cak
Lontong memadukan bakat kecerdasannya dengan pengetahuan yang luas lalu
meluncurlah dari mulutnya aneka bahasa silogisme yang membuat kita tertegun
lalu ngakak.
Ia pandai menghidupkan suasana.
Dalam interaksi spontan, misalnya roasting,
alumnus Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS) Surabaya ini mampu mengelak dan menyerang balik tanpa
merendahkan pelawak lain. Daya tariknya begitu kuat. Seolah saat kita melihat
dia naik pentas akan selalu ada pengetahuan lucu baru yang bakal kita dapatkan.
Cak
Lontong mampu membuat penonton terbahak-bahak tanpa membuat orang lain terhina.
Karena demikianlah esensi lawak. Tujuan utama melawak adalah menghibur, membuat
yang susah jadi senang, yang kusut jadi fresh.
Komika Joshua Suherman dan Ge
Pamungkas perlu banyak belajar dari Cak Lontong tentang bagaimana memberikan
sajian lawak yang lucu tanpa menyakiti. Lucu dan terkenal bisa diraih tanpa
harus dengan kontroversi.
Fakta bahwa ada sekelompok muslim
yang melaporkan Joshua dan Ge Pamungkas ke polisi menunjukkan ada yang
tersakiti dari lawakan mereka. Padahal, sekali lagi, esensi melawak adalah
menghibur bukan membuat murka.
Di republik ini, isu suku, agama,
ras (SARA)—khususnya agama--sangat sensitif. Ritual dan dalil-dalil agama
terlalu sakral untuk dijadikan dagelan. Menjadikan kaidah dan ritual agama
sebagai bahan lawakan berisiko menyakiti komunitas agama tersebut. Selain
Joshua dan G Pamungkas, ada komika Mongol yang juga sering menjadikan agama
(Kristen) sebagai materi lawakan.
Jujur saja, itu mengurangi minat
saya untuk melihat mereka tampil. Dan dalam kaca mata saya sebagai penyuka
dunia komedi, lawakan berbasis agama itu “garing”,
tidak lucu.
Sebagaimana artis yang banyak
diidolakan, pelawak pun punya penggemar militan. Sesuatu yang muncul dari sang
panutan akan menjadi tren. Ingat dengan istilah “prekitiew” yang cetar
membahana dari pelawak Sule? Atau celetukan “mikir” yang berasal dari Cak
Lontong. Dua kata itu tiba-tiba saja menjadi begitu popular diucapkan di
berbagai pelosok negeri.
Karena itu, seorang pelawak bukan
hanya harus bisa melucu tapi juga mempunyai kecerdasan sosial. Cak Lontong dalam
kaca mata saya adalah pelawak dengan kecerdasan sosial yang tinggi.
Kecerdasan
sosial, menurut ilmuwan data Ross Honeywill,
adalah gabungan dari kesadaran diri dan kesadaran sosial. Orang dengan kecerdasan sosial
tinggi memiliki kemampuan mengenal diri sendiri dan orang lain, mampu bertindak
bijaksana dalam hubungan sosial manusia.
Stephen
Jay Could (1994)
menjelaskan kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan
mengelola hubungan manusia. Kecerdasan ini adalah kepandaian yang mengangkat
fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan
kepekaan sosial tinggi.
Perkembangan internet yang masif mengikis
jarak dan waktu. Apapun kejadian di satu tempat bisa diketahui dan disaksikan
di daerah lain dalam hitungan menit. Kejadian dan kegiatan yang dulu hanya
dikonsumsi komunitas terbatas dan di ruang tertutup, kini begitu gampang
diketahui orang lain yang mungkin tidak sepaham. Dalam beberapa kasus hal ini
memicu perselisihan.
Karena itu, bijak dalam bertindak
menjadi kunci. Sebagai artis yang notabene tokoh publik, Joshua dan Ge
Pamungkas perlu lebih bijak kala melawak. Situasi negeri yang karut marut akibat
banjir perdebatan di dunia maya setiap detik, jangan diperparah dengan tindakan
yang mengundang tawa sesaat tapi memicu kemarahan berkepanjangan.
Merenung dan merencanakan bahan
lawakan bukan barang tabu. Cak Lontong mengakui, lucunya dia didukung oleh
perencanaan materi yang baik sebelum naik pentas. Dan penonton pun paham mana
lawakan yang dewasa dan bijaksana serta mana lawakan yang asal-asalan dan
akhirnya berujung “garing”.
Note: Artikel ini dimuat Solopos, 21 Januari 2018
No comments:
Post a Comment