Sunday, December 16, 2018

Jika Tidak Cerdas Tak Usah Melawak



Siapakah pelawak paling cerdas sekaligus terlucu saat ini? Saya yakin banyak yang setuju jika saya memilih Cak Lontong. Cak Lontong adalah komedian dengan gaya pelesetan yang cerdas, kritis dan menghibur. Pria bernama lengkap Lies Hartono ini tetap lucu tanpa kehilangan kecerdasannya dan tetap cerdas tanpa kehilangan kelucuannya.

Cak Lontong muncul sebagai antithesis dari lawakan tempo dulu yang cenderung mengandalkan kelucuan fisik ala slapstick. Ia bermain dengan logika dan penalaran yang diolah dengan tataran kata yang jika diucapkan orang lain biasa tapi menjadi istimewa kala dia yang berucap.

Di era now, sebenarnya Cak Lontong tidak sendirian memerankan peran sebagai pelawak yang bermain dengan kecerdasan kata. Ada beberapa komika yang menonjol di permainan kata, tapi tetap saja Cak Lontong yang paling unggul.

Mengapa? Karena, pertama, pria yang memulai karier lawak bersama grup Ludruk Cap Toegoe ini pandai mengambil tema yang aktual dan relevan. Dalam konteks bisnis ini sangat menguntungkan bagi dia sendiri. Kebiasaan Cak Lontong adalah membuat pelesetan positif untuk nama-nama pejabat dari instansi/perusahaan yang mengundangnya.  

Misalnya ia memanjangkan nama Ketua Partai Golkar Airlangga Hartarto dengan Amanah Mengalir Langkahnya Terjaga, Harapannya Mengantar Rakyat Makmurnya Roto (rata). Tentu saja itu membuat tertawa penonton dan menyenangkan pihak pengundang. Job pun laris manis.

Kedua, Cak Lontong selalu mampu membuat kejutan sebelum lawakannya berakhir. Ini adalah yang paling saya tunggu sebagai penggemar stand up komedi. Misalnya,”meskipun Anda jelek jangan pernah takut mencintai orang lain. Karena sesungguhnya yang harusnya takut adalah orang yang Anda cintai.”

Ketiga, Cak Lontong selalu menempatkan pikirannya berseberangan dengan logika awam. Ini yang menjadikan dia berbeda dari pelawak lainnya. Logikanya kerap terbalik dari persepsi awam, melawan arus pemikiran orang banyak tapi tidak salah nalar.

Ini jelas bukan sekadar bakat alam tapi melalui proses belajar dan perencanaan serta latihan yang baik. Cak Lontong memadukan bakat kecerdasannya dengan pengetahuan yang luas lalu meluncurlah dari mulutnya aneka bahasa silogisme yang membuat kita tertegun lalu ngakak.

Ia pandai menghidupkan suasana. Dalam interaksi spontan, misalnya roasting,  alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini mampu mengelak dan menyerang balik tanpa merendahkan pelawak lain. Daya tariknya begitu kuat. Seolah saat kita melihat dia naik pentas akan selalu ada pengetahuan lucu baru yang bakal kita dapatkan.

Cak Lontong mampu membuat penonton terbahak-bahak tanpa membuat orang lain terhina. Karena demikianlah esensi lawak. Tujuan utama melawak adalah menghibur, membuat yang susah jadi senang, yang kusut jadi fresh.

Komika Joshua Suherman dan Ge Pamungkas perlu banyak belajar dari Cak Lontong tentang bagaimana memberikan sajian lawak yang lucu tanpa menyakiti. Lucu dan terkenal bisa diraih tanpa harus dengan kontroversi.

Fakta bahwa ada sekelompok muslim yang melaporkan Joshua dan Ge Pamungkas ke polisi menunjukkan ada yang tersakiti dari lawakan mereka. Padahal, sekali lagi, esensi melawak adalah menghibur bukan membuat murka.

Di republik ini, isu suku, agama, ras (SARA)—khususnya agama--sangat sensitif. Ritual dan dalil-dalil agama terlalu sakral untuk dijadikan dagelan. Menjadikan kaidah dan ritual agama sebagai bahan lawakan berisiko menyakiti komunitas agama tersebut. Selain Joshua dan G Pamungkas, ada komika Mongol yang juga sering menjadikan agama (Kristen) sebagai materi lawakan.

Jujur saja, itu mengurangi minat saya untuk melihat mereka tampil. Dan dalam kaca mata saya sebagai penyuka dunia komedi, lawakan berbasis agama itu “garing”, tidak lucu.

Sebagaimana artis yang banyak diidolakan, pelawak pun punya penggemar militan. Sesuatu yang muncul dari sang panutan akan menjadi tren. Ingat dengan istilah “prekitiew” yang cetar membahana dari pelawak Sule? Atau celetukan “mikir” yang berasal dari Cak Lontong. Dua kata itu tiba-tiba saja menjadi begitu popular diucapkan di berbagai pelosok negeri.  

Karena itu, seorang pelawak bukan hanya harus bisa melucu tapi juga mempunyai kecerdasan sosial. Cak Lontong dalam kaca mata saya adalah pelawak dengan kecerdasan sosial yang tinggi.

Kecerdasan sosial, menurut ilmuwan data Ross Honeywill, adalah gabungan dari kesadaran diri dan kesadaran sosial. Orang dengan kecerdasan sosial tinggi memiliki kemampuan mengenal diri sendiri dan orang lain, mampu bertindak bijaksana dalam hubungan sosial manusia.

Stephen Jay Could (1994) menjelaskan kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia. Kecerdasan ini adalah kepandaian yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan sosial tinggi.

Perkembangan internet yang masif mengikis jarak dan waktu. Apapun kejadian di satu tempat bisa diketahui dan disaksikan di daerah lain dalam hitungan menit. Kejadian dan kegiatan yang dulu hanya dikonsumsi komunitas terbatas dan di ruang tertutup, kini begitu gampang diketahui orang lain yang mungkin tidak sepaham. Dalam beberapa kasus hal ini memicu perselisihan.

Karena itu, bijak dalam bertindak menjadi kunci. Sebagai artis yang notabene tokoh publik, Joshua dan Ge Pamungkas perlu lebih bijak kala melawak. Situasi negeri yang karut marut akibat banjir perdebatan di dunia maya setiap detik, jangan diperparah dengan tindakan yang mengundang tawa sesaat tapi memicu kemarahan berkepanjangan.

Merenung dan merencanakan bahan lawakan bukan barang tabu. Cak Lontong mengakui, lucunya dia didukung oleh perencanaan materi yang baik sebelum naik pentas. Dan penonton pun paham mana lawakan yang dewasa dan bijaksana serta mana lawakan yang asal-asalan dan akhirnya berujung “garing”


Note: Artikel ini dimuat Solopos, 21 Januari 2018

No comments:

Post a Comment

PETAHANA OH PETAHANA

Presiden Joko Widodo membombardir publik dengan sejumlah kebijakan populis di tahun politik. Setelah menaikkan anggaran perli...