Sunday, December 16, 2018

Bermimpi Sembari Menginjak Bumi


“Bermimpi itu gratis, jadi mari terus bermimpi.” 

Jujur saya sangat tidak yakin saat mega bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo mengucapkan kalimat itu setelah Portugal menyingkirkan Wales 2-0 pada babak semifinal Euro 2016 di Lyon, Prancis, Kamis 7 Juli lalu. 
Saya anggap perkataan selebritas lapangan hijau itu hanya ucapan menghibur diri.  Apalagi dua kandidat juara yang begitu perkasa di babak fase grup dan knockout, Prancis dan Jerman, telah sama-sama sampai ke babak semifinal. 
Ketidakyakinan saya itu mengaca pada performa timnas Portugal pada Euro 2016. Menurut saya permainan Ronaldo dkk. kalah meyakinkan dibanding penampilan mereka pada Euro 2012 ketika masih dilatih Paulo Bento. Di bawah asuhan Bento permainan Portugal kala itu sangat atraktif meski akhirnya terhenti di babak semifinal. Paling tidak, sebutan Brasil-nya Eropa memang layak mereka sandang.  
Sementara di bawah asuhan Fernando Santos, Portugal seolah tampil kurang darah. Betapa tidak, dalam tiga pertandingan fase grup mereka tidak pernah menang. Melawan tim kecil Islandia mereka bermain imbang 1-1. Pertandingan selanjutnya melawan Austria mereka tidak sanggup mencetak gol dan harus puas hasil imbang 0-0. 
Bahkan di pertandingan terakhir Seleccao (julukan Portugal)  nyaris tumbang sebelum akhirnya berhasil menyamakan kedudukan 3-3 menghadapi Hungaria. Mereka seperti bermain mengandalkan kemampuan individu, bukan kerja sama tim. 
Lolosnya Cristiano Ronaldo dkk. ke babak 16 besar pun tertolong oleh aturan baru Euro 2016 yang memakai format 24 tim, bukan 16 tim seperti gelaran-gelaran sebelumnya. Dewi Fortuna menaungi mereka sehingga dinobatkan sebagai peringkat ketiga terbaik dan lolos ke babak 16 besar.
Bagi penggila sepak bola raihan itu jelas sangat tidak meyakinkan. Sangat sedikit petaruh yang berani memasang taruhan untuk Portugal. Mereka memilih tim-tim yang tampil impresif seperti Prancis, Jerman, Italia dan Spanyol sebagai calon juara Euro 2016. 
Tapi tidak pernah menang di fase grup justru menyulut semangat Ronaldo dkk. Mereka seolah terlecut untuk menjungkirkan prediksi banyak kalangan. Hasilnya, Kroasia yang lebih dijagokan mereka jungkalkan di babak 16 besar dengan skor 1-0 sekaligus sebagai kemenangan perdana Portugal. 
Di babak perempatfinal giliran Polandia yang menjadi korban.  Robert Lewandowski dkk. yang lebih diunggulkan mereka tekuk melalui drama adu penalti dengan skor 5-3. Semangat juang Ronaldo dkk. juga membuat sang pendatang baru yang banjir pujian, Wales, tak berdaya. Di babak semifinal Gareth Bale cs. tersungkur 0-2. 
Ujian paling krusial tentu saja di babak final. Bukan saja karena Prancis tampil sangat ganas sejak awal turnamen tapi juga karena sang lawan tampil di kandang dengan dukungan puluhan ribu suporter fanatik. Jangan lupa, Prancis adalah juara Piala Dunia 1998 dan juara Piala Eropa 2000.  Pada ajang Euro 2016 Prancis hanya sekali ditahan imbang yakni saat melawan Swiss di fase grup. Selebihnya tim asuhan Didier Deschamps selalu menang. 
Tapi fakta menunjukkan Portugal-lah jawara Eropa saat ini. Ronaldo membuktikan mimpi mampu melecut semangat menuai prestasi. Mimpi mampu membuat mental naik berlipat-lipat. Tak peduli jauh dari kampung halaman, mereka mampu membuat skuat Prancis menangis di kandang sendiri. 
Portugal belajar dari kegagalan Euro 2012 yang mengandalkan permainan cantik tapi ternyata tidak efektif.  Mereka menggantinya dengan permainan yang tidak terlalu atraktif namun sangat efektif. Bagi penggila bola, gaya main Portugal kali ini jelas sangat menjemukan. Tapi sejarah selalu mencatat tim yang menjadi juara, bukan tim yang bermain cantik. Portugal juga mengasah mental, berkaca dari pengalaman kalah di final pada gelaran Euro 2004 di kandang mereka sendiri. 

------
Sepak bola Indonesia yang baru bangkit dari mimpi buruk setelah dihukum FIFA harusnya banyak belajar dari kisah Portugal ini. Tidak ada yang salah dengan mimpi. Yang salah adalah ketika mimpi hanya berhenti sebagai bunga tidur tanpa ada langkah nyata untuk merealisasikan. Tanpa belajar dari kesalahan-kesalahan terdahulu. 
“Semua orang besar adalah pemimpi,” kata mendiang Presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson. Napoleon Bonaparte adalah pemimpi besar. Ia tidak akan pernah dikenal dalam sejarah jika tidak berani bermimpi menyatukan negara-negara di daratan Eropa di bawah bendera Prancis. 
Bill Gates juga pemimpi ulung. Meski ditertawakan banyak orang dengan mimpinya tentang setiap rumah punya personal computer dengan sistem Windows-nya, kini ia dikenang sebagai orang yang berjasa besar bagi miliaran manusia di dunia.
Kita juga tidak akan bisa menyaksikan film Star War jika George Lucas mutung ketika dicibir banyak rekannya kala menyampaikan ide membuat film berteknologi animasi komputer pada 1970 silam. Faktanya, Star War kini menjadi legenda dan dibuat skuelnya berulang kali. 
Edysen Shin dalam bukunya 7 Coward: Apakah Anda Seorang Pengecut (2009) menyebut kebanyakan orang menyalahkan lingkungan dibandingkan fokus pada instropeksi diri sendiri. Edysen Shin mengingatkan kita bahwa musuh terbesar setiap pribadi adalah dirinya sendiri. Orang lain tidak mungkin bisa merontokkan semangat kita jika dalam diri tertanam keinginan kuat untuk meraih sesuatu. 
Setiap masa dibutuhkan mental dan keberanian yang kukuh untuk selalu yakin dengan diri sendiri. Itulah semangat keberhasilan yang sesungguhnya, yang membedakan pemenang dan pecundang, pemberani dan pengecut.
Kembali ke sepak bola Indonesia. Setelah tercabik-cabik dalam “perang saudara” antara kubu yang menghendaki reformasi dengan kubu status quo, kini saatnya kita berbenah karena FIFA sudah mengampuni Tim Garuda untuk berlaga di ajang internasional. 
Yang terdekat dan bergengsi adalah Piala AFF U-19 (September 2016) dan Piala AFF senior (Oktober 2016). Piala AFF U-19 jelas sarat gengsi karena Indonesia berstatus juara bertahan setelah tim asuhan Indra Sjafrie berjaya pada 2014 silam. 
Indonesia pernah punya mimpi gila di era Nurdin Halid. Sang Ketua Umum PSSI itu menargetkan Indonesia bakal ikut Piala Dunia 2020. Belum terlambat untuk meraih mimpi itu. Syaratnya, kita harus melalui tahapan yang benar mewujudkan mimpi tersebut. 
Mari bermimpi sembari tetap menginjak bumi. Ronaldo jelas mengajak kita untuk bermimpi setinggi langit. Tapi ia juga mengajari kita untuk tetap menginjak bumi. Artinya, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk bermimpi. 
Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari sukses Portugal. Pertama, tidak mungkin ada prestasi timnas jika tidak ada kompetisi yang sehat di dalam negeri. Pembenahan di PSSI saat ini bisa menjadi momentum untuk membentuk kompetisi yang sehat. Kompetisi yang sehat harus terbebas dari hiruk pikuk politik. Pisahkan politik dari sepak bola. Biarkan sepak bola Indonesia semata menjadi industri olahraga.  
Kedua, pembenahan mental. Kita sering gagal karena mental yang buruk. Pada ajang Piala AFF 2010 Tim Garuda tampil sangat impresif sejak awal turnamen. Mirip yang terjadi pada Prancis di Euro 2016. Sayangnya di partai puncak Bambang Pamungkas dkk. tampil antiklimaks. Mereka kalah di laga tandang melawan Malaysia dengan skor 0-3. Upaya membalikkan keadaan pada laga kandang pun sia-sia karena mental telanjur anjlok. 
Ronaldo bukan saja kapten tim. Ia memosisikan dirinya sebagai motivator rekan-rekannya. Ia menyemangati timnya bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika mereka kompak. Permainan individual yang tersaji di babak fase grup segera mereka sadari sebagai sebuah hambatan bagi mimpi besar mereka. Kesalahan itu segera mereka perbaiki di babak selanjutnya menjadi permainan kolektif yang mengandalkan kerja sama. 
Ketiga, kerja sama. Permainan sepak bola bukan semata-mata permainan 11 orang di lapangan. Sepak bola melibatkan pemain, tim pelatih, federasi, suporter dan negara. Untuk meraih prestasi kelima elemen ini harus kompak. 
Cukuplah legenda hidup Persija dan Timnas Indonesia, Bambang Pamungkas, yang mengakui dirinya sebagai generasi yang gagal sebagaimana ia tulis dalam situs pribadinya, bambangpamungkas20.com. Mari kita wujudkan mimpi dengan belajar dari kisah sukses Portugal. Mari terus bermimpi karena mimpi itu gratis. 


Note: Artikel ini dimuat Solopos, 17 Juli 2016

No comments:

Post a Comment

PETAHANA OH PETAHANA

Presiden Joko Widodo membombardir publik dengan sejumlah kebijakan populis di tahun politik. Setelah menaikkan anggaran perli...