“Bermimpi itu gratis, jadi mari terus bermimpi.”
Jujur saya sangat tidak yakin saat mega bintang Real Madrid Cristiano
Ronaldo mengucapkan kalimat itu setelah Portugal menyingkirkan Wales 2-0 pada
babak semifinal Euro 2016 di Lyon,
Prancis, Kamis 7 Juli lalu.
Saya anggap perkataan selebritas
lapangan hijau itu hanya ucapan menghibur diri. Apalagi dua kandidat juara yang begitu perkasa
di babak fase grup dan knockout, Prancis
dan Jerman, telah sama-sama sampai ke babak semifinal.
Ketidakyakinan saya itu mengaca pada performa
timnas Portugal pada Euro 2016. Menurut
saya permainan Ronaldo dkk. kalah meyakinkan dibanding penampilan mereka pada Euro 2012 ketika masih dilatih Paulo
Bento. Di bawah asuhan Bento permainan Portugal kala itu sangat atraktif meski
akhirnya terhenti di babak semifinal. Paling tidak, sebutan Brasil-nya Eropa
memang layak mereka sandang.
Sementara di bawah asuhan Fernando
Santos, Portugal seolah tampil kurang darah. Betapa tidak, dalam tiga
pertandingan fase grup mereka tidak pernah menang. Melawan tim kecil Islandia
mereka bermain imbang 1-1. Pertandingan selanjutnya melawan Austria mereka
tidak sanggup mencetak gol dan harus puas hasil imbang 0-0.
Bahkan di pertandingan terakhir Seleccao
(julukan Portugal) nyaris tumbang
sebelum akhirnya berhasil menyamakan kedudukan 3-3 menghadapi Hungaria. Mereka
seperti bermain mengandalkan kemampuan individu, bukan kerja sama tim.
Lolosnya Cristiano Ronaldo dkk. ke
babak 16 besar pun tertolong oleh aturan baru Euro 2016 yang memakai format 24 tim, bukan 16 tim seperti
gelaran-gelaran sebelumnya. Dewi Fortuna menaungi mereka sehingga dinobatkan
sebagai peringkat ketiga terbaik dan lolos ke babak 16 besar.
Bagi penggila sepak bola raihan itu
jelas sangat tidak meyakinkan. Sangat sedikit petaruh yang berani memasang
taruhan untuk Portugal. Mereka memilih tim-tim yang tampil impresif seperti
Prancis, Jerman, Italia dan Spanyol sebagai calon juara Euro 2016.
Tapi tidak pernah menang di fase grup
justru menyulut semangat Ronaldo dkk. Mereka seolah terlecut untuk
menjungkirkan prediksi banyak kalangan. Hasilnya, Kroasia yang lebih dijagokan
mereka jungkalkan di babak 16 besar dengan skor 1-0 sekaligus sebagai kemenangan
perdana Portugal.
Di babak perempatfinal giliran
Polandia yang menjadi korban. Robert Lewandowski dkk. yang lebih
diunggulkan mereka tekuk melalui drama adu penalti dengan skor 5-3. Semangat juang
Ronaldo dkk. juga membuat sang pendatang baru yang banjir pujian, Wales, tak
berdaya. Di babak semifinal Gareth Bale cs. tersungkur 0-2.
Ujian paling krusial tentu saja di
babak final. Bukan saja karena Prancis tampil sangat ganas sejak awal turnamen tapi
juga karena sang lawan tampil di kandang dengan dukungan puluhan ribu suporter
fanatik. Jangan lupa, Prancis adalah juara Piala Dunia 1998 dan juara Piala
Eropa 2000. Pada ajang Euro 2016 Prancis hanya sekali ditahan
imbang yakni saat melawan Swiss di fase grup. Selebihnya tim asuhan Didier
Deschamps selalu menang.
Tapi fakta menunjukkan Portugal-lah
jawara Eropa saat ini. Ronaldo membuktikan mimpi mampu melecut semangat menuai
prestasi. Mimpi mampu membuat mental naik berlipat-lipat. Tak peduli jauh dari
kampung halaman, mereka mampu membuat skuat Prancis menangis di kandang
sendiri.
Portugal belajar dari kegagalan Euro
2012 yang mengandalkan permainan cantik tapi ternyata tidak efektif. Mereka menggantinya dengan permainan yang
tidak terlalu atraktif namun sangat efektif. Bagi penggila bola, gaya main
Portugal kali ini jelas sangat menjemukan. Tapi sejarah selalu mencatat tim
yang menjadi juara, bukan tim yang bermain cantik. Portugal juga mengasah
mental, berkaca dari pengalaman kalah di final pada gelaran Euro 2004 di
kandang mereka sendiri.
------
Sepak bola Indonesia yang baru
bangkit dari mimpi buruk setelah dihukum FIFA harusnya banyak belajar dari kisah
Portugal ini. Tidak ada yang salah dengan mimpi. Yang salah adalah ketika mimpi
hanya berhenti sebagai bunga tidur tanpa ada langkah nyata untuk merealisasikan.
Tanpa belajar dari kesalahan-kesalahan terdahulu.
“Semua orang besar adalah pemimpi,”
kata mendiang Presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson. Napoleon Bonaparte
adalah pemimpi besar. Ia tidak akan pernah dikenal dalam sejarah jika tidak berani
bermimpi menyatukan negara-negara di daratan Eropa di bawah bendera Prancis.
Bill Gates juga pemimpi ulung. Meski
ditertawakan banyak orang dengan mimpinya tentang setiap rumah punya personal computer dengan sistem
Windows-nya, kini ia dikenang sebagai orang yang berjasa besar bagi miliaran
manusia di dunia.
Kita juga tidak akan bisa menyaksikan
film Star War jika George Lucas mutung ketika dicibir banyak rekannya
kala menyampaikan ide membuat film berteknologi animasi komputer pada 1970
silam. Faktanya, Star War kini
menjadi legenda dan dibuat skuelnya berulang kali.
Edysen Shin dalam bukunya 7 Coward: Apakah Anda Seorang Pengecut
(2009) menyebut kebanyakan orang menyalahkan lingkungan dibandingkan fokus pada
instropeksi diri sendiri. Edysen Shin mengingatkan kita bahwa musuh terbesar setiap
pribadi adalah dirinya sendiri. Orang lain tidak mungkin bisa merontokkan
semangat kita jika dalam diri tertanam keinginan kuat untuk meraih sesuatu.
Setiap masa dibutuhkan mental dan
keberanian yang kukuh untuk selalu yakin dengan diri sendiri. Itulah semangat
keberhasilan yang sesungguhnya, yang membedakan pemenang dan pecundang,
pemberani dan pengecut.
Kembali ke sepak bola Indonesia. Setelah
tercabik-cabik dalam “perang saudara” antara kubu yang menghendaki reformasi
dengan kubu status quo, kini saatnya kita berbenah karena FIFA sudah mengampuni
Tim Garuda untuk berlaga di ajang internasional.
Yang terdekat dan bergengsi adalah
Piala AFF U-19 (September 2016) dan Piala AFF senior (Oktober 2016). Piala AFF
U-19 jelas sarat gengsi karena Indonesia berstatus juara bertahan setelah tim
asuhan Indra Sjafrie berjaya pada 2014 silam.
Indonesia pernah punya mimpi gila di
era Nurdin Halid. Sang Ketua Umum PSSI itu menargetkan Indonesia bakal ikut
Piala Dunia 2020. Belum terlambat untuk meraih mimpi itu. Syaratnya, kita harus
melalui tahapan yang benar mewujudkan mimpi tersebut.
Mari bermimpi sembari tetap menginjak
bumi. Ronaldo jelas mengajak kita untuk bermimpi setinggi langit. Tapi ia juga
mengajari kita untuk tetap menginjak bumi. Artinya, ada tahapan-tahapan yang
harus dilalui untuk bermimpi.
Setidaknya ada tiga hal yang bisa
kita pelajari dari sukses Portugal. Pertama,
tidak mungkin ada prestasi timnas jika tidak ada kompetisi yang sehat di dalam
negeri. Pembenahan di PSSI saat ini bisa menjadi momentum untuk membentuk
kompetisi yang sehat. Kompetisi yang sehat harus terbebas dari hiruk pikuk politik.
Pisahkan politik dari sepak bola. Biarkan sepak bola Indonesia semata menjadi
industri olahraga.
Kedua,
pembenahan mental. Kita sering gagal karena mental yang buruk. Pada ajang Piala
AFF 2010 Tim Garuda tampil sangat impresif sejak awal turnamen. Mirip yang
terjadi pada Prancis di Euro 2016. Sayangnya di partai puncak Bambang Pamungkas
dkk. tampil antiklimaks. Mereka kalah di laga tandang melawan Malaysia dengan
skor 0-3. Upaya membalikkan keadaan pada laga kandang pun sia-sia karena mental
telanjur anjlok.
Ronaldo bukan saja kapten tim. Ia
memosisikan dirinya sebagai motivator rekan-rekannya. Ia menyemangati timnya
bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika mereka kompak. Permainan individual
yang tersaji di babak fase grup segera mereka sadari sebagai sebuah hambatan
bagi mimpi besar mereka. Kesalahan itu segera mereka perbaiki di babak
selanjutnya menjadi permainan kolektif yang mengandalkan kerja sama.
Ketiga, kerja
sama. Permainan sepak bola bukan semata-mata permainan 11 orang di lapangan.
Sepak bola melibatkan pemain, tim pelatih, federasi, suporter dan negara. Untuk
meraih prestasi kelima elemen ini harus kompak.
Cukuplah legenda hidup Persija dan
Timnas Indonesia, Bambang Pamungkas, yang mengakui dirinya sebagai generasi
yang gagal sebagaimana ia tulis dalam situs pribadinya, bambangpamungkas20.com. Mari kita wujudkan mimpi dengan belajar
dari kisah sukses Portugal. Mari terus bermimpi karena mimpi itu gratis.
Note: Artikel ini dimuat Solopos, 17 Juli 2016
No comments:
Post a Comment