Sunday, December 16, 2018

Sayangnya, Rasionalitas Semakin Menjauh Gaesss



Jika kontestasi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) versus Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden terjadi hari ini, saya yakin akan lebih seru dibandingkan pertarungan Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto.

Latar belakang politik SBY menjadi jaminannya. Mantan menteri di Kabinet Gotong Royong itu menantang atasannya dalam posisi “teraniaya”. Sebelumnya, SBY mundur sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) karena merasa dikucilkan dalam kabinet.

Posisi “teraniaya” itulah yang diyakini mengeruk simpati publik yang lantas mengantarkan SBY ke tampuk tertinggi pemerintahan pada 2004 melalui pemilihan presiden secara langsung untuk kali pertama. Dan publik menjadi saksi sejak saat itu perang dingin SBY-Megawati terjadi hingga bertahun-tahun. Dalam berbagai acara kenegaraan yang dihadiri mantan presiden, Megawati ogah datang.

Perseteruan ala SBY dan Mega itu sebenarnya tidak terjadi pada Jokowi dan Prabowo. Memiliki hubungan dekat dengan Jokowi saat menjadi Wali Kota Solo, Prabowo bahkan menjadi tokoh sentral yang mengantarkan pengusaha mebel itu ke kursi DKI 1.

Persaingan baru terjadi dua tahun setelah itu. Keduanya berada di posisi berlawanan karena Jokowi maju menjadi calon presiden menantang Prabowo. Setelah kekalahan di Pilpres 2014, hubungan Jokowi-Prabowo pasang surut.

Meskipun tak sedramatis SBY vs Mega, kontestasi Jokowi vs Prabowo lebih geger karena terjadi di era ketika kemajuan digital mencapai puncak. Perseteruan bukan lagi di tingkat elite, tapi menjamur hingga ke akar rumput. Bahkan di arus bawah perseteruan lebih heboh.

Publik terpolarisasi dalam dua kutub, pro Jokowi dan kontra Jokowi. Semangat bermusuhan dipupuk dari hari ke hari. Event lima tahunan yang biasanya menurun tensi politiknya pascapemilihan mengalami fase berbeda. Tensinya stabil tinggi dan kembali memuncak mendekati tahun 2019.

Rasionalitas menjauh. Yang pro Jokowi membela mati-matian, yang kontra mencela membabi buta. Dua kubu fokus pada hal yang sama: lawan harus salah. Semangat membela atau mencela mengalahkan akal sehat. Tak ada lagi semangat persatuan yang diwariskan para pendiri bangsa.

Saling caci menjadi menu harian. Memaki seolah wujud eksistensi diri. Nyinyir menjadi rutinitas tak kenal henti. Tak perlu kenal satu sama lain, asal berbeda pendapat langsung main hujat.

Dunia maya menjanjikan keberanian semu, bermusuhan tanpa pernah saling berjumpa. Rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa kalah oleh ego kelompok. Persaudaraan porak poranda, semua mendadak menjadi beringas. Semua saling tuding pihak lawan yang bersalah. Semua fokus mencari siapa yang salah, dan itu pasti bukan dirinya.

Sampai kapan sikap permusuhan ini akan terus dipelihara? Pemilihan pemimpin terjadi lima tahun sekali tapi sepanjang tahun anak bangsa berseteru.

Kemajuan teknologi ibarat pisau yang mempunyai dua fungsi. Ia bisa bermakna positif jika dimanfaatkan untuk memotong sayuran, daging dan aneka kebutuhan dapur. Pisau seketika menjadi jahat kala digunakan untuk membunuh sang koki.

Begitupun dengan kemajuan teknologi. Gadget bermakna bagi kemajuan bangsa jika digunakan secara positif untuk menciptakan kreasi dan teknologi atau untuk saling sapa sesama. Gadget bakal membinasakan jika difungsikan sebagai alat untuk menyalahkan sesama anak bangsa.

Media sosial menjadi faktor utama saling hujat di dunia maya menjadi kronis hingga hari ini. Dulu ketika Megawati kalah dari SBY, suasana menjadi adem lagi meski publik tahu dua tokoh bangsa itu perang dingin bertahun-tahun. Dua kubu belum akur tapi tidak ada perang informasi secara terbuka seperti yang terjadi saat ini.

Zaman berganti. Sekarang eranya internet, eranya media sosial. Orang begitu gampang menelurkan ide dan gagasan sekaligus umpatan. Jeratan hukum dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tak mampu membuat orang takut mencerca di dunia maya. Hanya satu dua yang diproses hukum atas laporan lawan bertengkarnya di dunia maya. Selebihnya, mereka bebas saling memaki hingga hari ini. 

Kemajuan teknologi menuntut kita lebih bijaksana dibandingkan sebelumnya. Kebijaksanaan mengembalikan akal sehat kita sebagai manusia. Jika berpikir demi kebaikan negeri takkan ada klaim Tol Jokowi, Tol SBY, Tol Soeharto atau Tol Sandiaga Uno. Takkan ada postingan klaim keberhasilan atau tudingan kegagalan.

Jika kita berpikir arif, kekurangan akan diperbaiki dengan kritik-kritik konstruktif. Bukan dengan membesar-besarkan kesalahan kecil. Kritik konstruktif akan mengoreksi kesalahan-kesalahan besar secara arif, tapi bukan mengecilkannya.

Pergantian pemimpin adalah keniscayaan dalam sebuah negara demokrasi. Sikapi secara biasa. Mereka yang saling hujat di gedung parlemen atau di televisi, jangan kaget jika tiba-tiba tepergok publik makan bersama di sebuah restoran. Perdebatan mereka bersifat elitis. Semu. Dan begitulah memang dunia politik. Yang terlihat seram di publik sejatinya biasa-biasa saja di dalam.

Publik terlalu jujur jika memaknai mereka bertengkar serius. Mereka hanya sedang memainkan peran sebagai politikus. Selebihnya kepentingan yang berbicara. Takkan ada lawan atau kawan abadi dalam politik. Yang hari ini berseberangan besok bisa saja bergandengan tangan. Yang hari ini berpelukan, besok bisa berhadapan sebagai lawan. Dunia politik selalu abu-abu.

Petuah Emha Ainun Najib (Cak Nun) dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) TV One beberapa hari lalu layak kita renungkan. Saatnya kita kembalikan jati diri bangsa yang lemah lembut dan penuh andhap ashar. Saatnya kita tidak membiasakan diri mencari siapa yang salah. Tiba waktunya kita berpikir secara bersama-sama untuk memperbaiki bangsa. Bukan siapa yang salah tapi apa yang salah di negeri ini, itu yang harus diperbaiki bareng-bareng, baik yang di dalam pemerintahan maupun yang berada di posisi oposisi.

Permasalahan besar yang dihadapi bangsa hanya bisa diselesaikan jika semua satu pikiran dan satu suara: apa yang harus diperbuat untuk negeri tercinta? Bangsa ini terlalu besar untuk dikelola satu kelompok. Keanekaragaman suku bangsa dan bahasa dengan segala potensi alamnya membutuhkan kekompakan seluruh anak negeri untuk mengelolanya.

Penjajahan ratusan tahun oleh Portugis, Belanda dan Jepang mengajarkan kita betapa permusuhan tidak akan menghasilkan apa-apa selain perpecahan.

Mari belajar kepada pendahulu bangsa memerdekakan negeri ini. Semangat merdeka yang membara menepikan perbedaan berbagai unsur sehingga terjadilah proklamasi 1945. Semangat merdeka itu mengalahkan semua perbedaan. Persatuan dan kesatuan bangsa adalah kunci kemerdekaan. Mengisi kemerdekaan juga membutuhkan persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa. Setop permusuhan, rapatkan barisan, mari bergandengan tangan demi bangsa dan Negara. 




*Artikel dimuat Solopos, 24 Juni 2018

No comments:

Post a Comment

PETAHANA OH PETAHANA

Presiden Joko Widodo membombardir publik dengan sejumlah kebijakan populis di tahun politik. Setelah menaikkan anggaran perli...